Menemukan Jalan Keluar dari Konflik Pernikahan Tanpa Bercerai

Materi Resolusi Konflik, Mediasi, dan Manajemen Emosi — Webinar BKPSDM Cilacap bersama Bapak Adi, Psikolog

Pembukaan

Pak Adi: Terima kasih, Mbak Rizki. Suara saya bisa terdengar, ya?

Bu Rizki: Terdengar jelas, Bapak.

Pak Adi: Baik, terima kasih. Sebelumnya saya berterima kasih sudah diberikan kesempatan untuk menyampaikan beberapa hal di sini. Salam hormat kepada Bapak Ibu di BKPSDM Cilacap. Saya sangat mengapresiasi Bapak Ibu dari BKPSDM Cilacap karena membuat acara seperti ini, yang membantu kita untuk mendapatkan banyak kesempatan belajar, ya. Yang saya lihat, ini tidak banyak dilakukan di banyak tempat, dan saya melihat ini sebagai hal yang sangat baik. Mudah-mudahan ini bisa membantu para audiens untuk belajar sesuatu yang tidak selalu bisa dipelajari di luar. Saya juga salam hormat kepada Bu Lucia dan Bu Wijayanti selaku psikolog yang juga menjadi narasumber di kegiatan ini. Dan saya merasa materi yang saya sampaikan nanti itu sangat erat kaitannya dengan materi yang akan disampaikan oleh Bu Wijayanti dan Bu Lucia, sehingga materi saya mungkin enggak bisa berdiri sendiri. Jadi nanti sangat penting bagi Bapak Ibu untuk mengikuti terus materinya hingga akhir, karena semuanya adalah satu rangkaian utuh yang, kalau hanya dipakai satu saja, mungkin nanti akan ada yang terlewat.

Mengapa Saya Mendalami Psikologi Pernikahan

Pak Adi: Saya pribadi mulai mendalami psikologi pernikahan dan pranikah itu sejak 2018, Bapak Ibu. Waktu itu saya mulai melihat data statistik yang menunjukkan, kok, angka pernikahan itu terus turun, sementara angka perceraian di Indonesia itu naik terus. Jadi saya merasa agak janggal. Memang alhamdulillahnya, angka perceraian di kita itu belum setinggi di beberapa negara di luar — kalau kita lihat di Amerika Serikat, itu lebih dari setengahnya bercerai, kita belum. Itu salah satu hal yang perlu kita syukuri. Tapi apakah itu membuat kita patut berdiam diri? Saya rasa tidak, karena ada alarm yang muncul di situ. Kita bisa melihat bahwa walaupun angka perceraian di Indonesia itu belum setinggi di banyak negara yang angka perceraiannya tinggi, tapi angka perceraian di kita itu terus meningkat, sementara angka pernikahan terus menurun. Kalau trennya tetap begitu, akan ada satu titik nanti di mana angka yang bercerai dengan yang menikah itu akan sama banyaknya dan mulai berkebalikan. Kalau nanti kita tidak melakukan sesuatu pada titik itu, maka nanti yang tidak bercerai itu justru enggak normal — karena normalnya banyakan orang bercerai, itu akan semakin berat untuk diatasi.

Pak Adi: Nah, satu hal yang membuat saya tertarik mendalami pernikahan dan pranikah adalah karena Indonesia ini banyak orang-orang hebat, Bapak Ibu. Tapi pertanyaannya, di tengah banyak orang hebat yang ada di Indonesia, kenapa angka perceraiannya terus meningkat dan angka pernikahannya terus menurun? Jangan-jangan ada yang kita lakukan selama ini yang justru berkontribusi terhadap menurunnya angka pernikahan dan meningkatnya angka perceraian. Kalau memang ada, itu perlu kita sadari, dan kita perlu melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Saat pertama kali mendapatkan amanah untuk membawakan materi ini, saya merasa materi ini cukup penting, karena materi saya itu kebetulan tentang pasangan menikah yang sudah mengalami konflik — dan terutama konflik yang cukup berat. Nanti di sesi selanjutnya, Bapak Ibu akan bertemu Bu Lucia untuk materi bagi yang sudah menikah, tetapi mungkin bukan yang terkait dengan konflik — tentang penguatan hubungan dan lain sebagainya. Dan yang sebelum menikah, nanti dengan Bu Wijayanti di sesi ketiga. Salah satu yang diamanahkan kepada saya adalah membawakan materi bagaimana caranya untuk menemukan jalan keluar dari konflik tanpa bercerai — tanpa harus berpisah.

Disclaimer — Tidak Semua Kasus Harus Dipertahankan

Pak Adi: Nah, dari sini saya harus disclaimer dulu, karena boleh jadi, di beberapa kasus, justru berpisah adalah jalan yang lebih baik. Itu saya harus disclaimer dulu. Kenapa begitu? Ada beberapa kasus. Pertama, ketika kita menghadapi kasus KDRT, Bapak Ibu — kekerasan dalam rumah tangga yang mengancam keselamatan. Kalau kita memaksakan komunikasinya dulu dijalankan, itu nanti akan menimbulkan banyak permasalahan. Yang dibutuhkan saat itu, pertama, adalah keselamatan. Kalau komunikasinya dulu kita jalankan, dua-duanya kita sambungkan komunikasinya, begitu pulang, nanti bisa jadi korban ini akan dihajar habis-habisan dan keselamatannya terancam. Jadi enggak selalu komunikasi merupakan jalan yang perlu ditempuh — ada kasus-kasus di mana keselamatan perlu diupayakan terlebih dahulu.

Pak Adi: Lalu ada juga kasus-kasus seperti, misalnya, salah satu pasangannya narsistik, NPD. Ketika NPD itu, setiap hari pasangan itu harus berhadapan dengan yang namanya gaslighting. Gaslighting itu disalahkan terus — bahkan ketika dia melakukan yang benar, dia tetap disalahkan, jadi faktanya diputarbalikkan. Bapak Ibu bisa bayangkan, bila setiap hari orang ada di dalam lingkungan yang distortif seperti itu, dia tidak akan bisa lagi membedakan mana yang benar, mana yang salah — karena selama ini apa yang diyakininya sebagai benar itu selalu diperlihatkan sebagai sesuatu yang salah di rumahnya, sehingga lama-lama kesulitan untuk membedakan mana yang baik, mana yang buruk. Kita bisa bayangkan, bila kita mendorong agar pasangan itu tetap bersatu, maka bisa kita lihat bagaimana dampaknya di korban.

Pak Adi: Dan satu hal yang biasanya perlu saya garis bawahi adalah peran pihak institusi itu penting sekali. Karena kadang-kadang, ketika kita menjadi pihak yang mendorong agar tetap ada di situ, komunikasinya dijalankan saja, boleh jadi kita perlu melihat kembali apakah langkah itu yang perlu dilakukan. Karena di beberapa hal, sebagai institusi, kita perlu menjadi pihak yang melindungi. Kadang-kadang yang namanya pasangan itu enggak semuanya bisa melindungi diri sendiri, Bapak Ibu. Kadang-kadang ada pasangan yang, ketika dia lecet sedikit, itu bisa dibawa ke pengadilan sebagai bahan untuk mendapatkan sesuatu. Tapi permasalahan yang paling berat itu terjadi ketika pasangannya enggak bisa bersuara apapun, diam aja — ternyata ketika membuka lengannya, itu sudah lebam biru. Orang-orang yang tidak berani speak up seperti itu, itu yang perlu dilindungi. Dan kadang-kadang mereka tidak bisa melindungi diri sendiri. Itu kenapa seringkali negara perlu hadir — yang kalau misalnya negara tidak hadir di situ, kita sebagai institusi tidak hadir di situ, boleh jadi produktivitasnya selama bekerja itu bisa terganggu oleh permasalahan di rumah.

Pak Adi: Kadang-kadang, boleh jadi, mereka yang ada masalah di rumah itu jadi aktif di tempat kerjanya, sehingga di pekerjaan itu jadi SDM yang bagus. Tapi biasanya, ketika itu terjadi, produktivitas di tempat kerja itu terjadi karena melarikan diri dari permasalahan di rumah. Sehingga ketika kita tidak cek apa yang terjadi di rumah, maka kita yang memfasilitasi pekerjaannya itu akan bisa semakin menjauhkannya dari solusi permasalahan di rumah tangganya. Sehingga nanti itu akan membuat permasalahannya semakin berat, dan justru jangan-jangan kita termasuk yang berkontribusi untuk membuat permasalahan rumah tangganya terhambat untuk terselesaikan.

Pak Adi: Jadi ada beberapa permasalahan seperti itu yang membuat saya merasa harus melakukan disclaimer dulu. Saya menyadari bahwa besar sekali harapan agar saya bisa memberikan gambaran bagaimana caranya agar pasangan yang mengalami konflik itu bisa menemukan jalan keluar tanpa harus berpisah. Tapi di beberapa kasus, kita perlu melihat kasus-kasusnya — ada beberapa kasus yang memang berpisah merupakan jalan yang perlu dipertimbangkan, dan ada beberapa kasus yang mungkin diperlukan untuk difasilitasi agar dibantu, karena tidak semua pasangan bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri. Jadi saya nanti akan mencoba untuk menguraikan kompleksitasnya, sehingga tidak semua permasalahan pernikahan kita solusikan dengan cara yang sama. Mudah-mudahan ini bisa jadi disclaimer dulu, ya, Bapak Ibu, sebelum kita menjalani mengikuti materinya lebih lanjut. Saya mohon izin untuk share screen dulu, boleh, Bapak Ibu? Bisa terlihat, ya, Bu Rizki?

Bu Rizki: Sudah, Pak, sudah bisa, Bapak.

Bertahan versus Berpisah — Bukan Pilihan Biner

Pak Adi: Baik. Nah, "Menemukan Jalan Keluar: Resolusi Konflik, Mediasi, dan Manajemen Emosi Tanpa Harus Berpisah." Pertama, saya ingin menyoroti tentang bertahan versus berpisah dulu.

Pak Adi: Betul bahwa seringkali permasalahan yang muncul, yang diajukan di pengadilan, adalah "sering berselisih dan sering bertengkar." Tapi kadang-kadang alasan itu diajukan karena itu alasan yang bisa diterima — tapi kita enggak tahu apa sebenarnya permasalahan sesungguhnya ada di belakangnya. Seringkali enggak selalu bisa diketahui yang sesungguhnya. Dan kadang-kadang, ketika pernikahan itu sedang bermasalah, maka opsinya sepertinya hanya ada dua: apakah itu bertahan atau berpisah. Sehingga, kalau opsinya hanya dua, maka yang kita pilih itu hanya satu dari dua ini — yang kadang-kadang, ketika kita memilih untuk berpisah, maka kita seringkali disalahkan, kenapa enggak coba untuk bertahan. Tapi ketika kita memilih bertahan, kita seringkali merasa berat untuk bertahan di pernikahan yang tidak mudah untuk dijalankan — apalagi ada beberapa situasi yang memang pernikahannya berat, seperti ada kekerasan, seperti ada manipulasi — yang, bila kita mendorong untuk bertahan saja tanpa berkontribusi untuk membantu memahami permasalahannya ada di mana, jangan-jangan ketika orang itu terus-menerus bertahan, maka akan muncul permasalahan gangguan yang lebih besar yang akan terjadi nantinya.

Pak Adi: Jadi dua ini seakan-akan pilihan yang harus dilakukan. Tapi di sini saya ingin menyampaikan kepada Bapak Ibu, pilihannya tidak hanya dua itu. Bahkan, pertama kali ketika menghadapi permasalahan pernikahan, jangan pilih satu di antara dua itu — saat itu juga ada hal yang perlu dilakukan sebelumnya, yaitu mempertimbangkan untuk datang ke orang yang bisa membantu, misalnya datang ke psikolog. Karena langkah sebelum menyelesaikan permasalahan adalah pahami dulu apa permasalahannya. Apa yang saya maksud, dalam praktik yang saya lakukan selama ini, seringkali kita melihat bahwa masalahnya sebenarnya bisa diselesaikan ketika kita bisa diskusi dan mencoba untuk melihat solusinya di mana. Bayangannya kan, ketika kita tahu apa yang kita inginkan, pasangan kita inginkan itu apa, maka kita akan bisa menemukan jalan tengah yang dua-duanya sama-sama enak.

Pak Adi: Permasalahannya adalah, Bapak Ibu, enggak semua orang mau melakukan itu. Misalnya, kita mencoba untuk melihat apa yang saya inginkan, lalu apa yang pasangan saya inginkan. Tapi bayangkan kalau kita disakiti oleh pasangan kita, maka mencoba untuk melihat yang dia inginkan apa, dan mencoba mencari jalan agar dia juga nyaman, maka akan muncul pikiran di kita: kenapa saya harus segitunya, amat, ke orang yang nyakitin saya? Karena dorongan pertama, saat merasa disakiti, biasanya adalah nyakitin balik, bukan menemukan solusi. Sehingga apapun yang dicoba untuk dilakukan untuk menemukan solusi pasti akan berujung pada saling menyalahkan, saling menyakiti — karena mereka merasa tidak terima akan perlakuan pasangannya ke mereka. Nah, itu kenapa problem solving di pernikahan seringkali sulit untuk dilakukan di konflik-konflik yang lukanya banyak.

Pak Adi: Kalau kita lihat di integrative behavioral couple therapy, yang perlu dilakukan pertama, sebelum unified detachment dan problem solving — biasanya kita melihat dari jauh, kira-kira ini masalahnya apa. Sebelum melakukan itu, kita perlu memahami dulu apa yang membuat dia begitu, apa yang membuat kita begini. Ketika muncul saling memahami pasangan kita — kenapa dia, kenapa kita — ketika empati mulai muncul, baru kita akan bisa menerima permasalahannya. Kalau kita enggak ngerti dia kenapa, enggak akan bisa kita terima. Kita hanya bisa akan menerima, "Oh, ternyata gitu, oke, kita coba cari solusinya," itu hanya akan bisa terjadi kalau kita ngerti masalahnya apa dan dia kenapa. Pada orang yang diselingkuhi, sulit untuk muncul begini, karena kita enggak ngerti dia kenapa. Kenapa dia ninggalin kita? Kenapa dia berselingkuh? Apa kurangnya saya? Ada banyak hal yang kita enggak ngerti, sehingga sulit untuk menerima pasangan yang melakukan hal yang enggak bisa kita mengerti.

Pak Adi: Sehingga kunci pertama itu bukan memutuskan untuk bertahan atau berpisah dulu, bukan menyelesaikan masalahnya dulu. Kunci pertama adalah duduk bareng untuk saling memahami apa yang terjadi — kenapa saya begini, kenapa dia begitu. Kadang-kadang melakukan ini enggak gampang kalau hanya berdua dengan pasangan, Bapak Ibu. Kenapa enggak gampang? Karena kalau ada masalah, kita berdua diskusi dengan pasangan, biasanya yang dicari pertama kali adalah "yang salah siapa." Kalau yang dicari yang salah siapa, maka ketemu jawabannya pun, yang salah enggak akan terima — sudah, nyalahin balik gitu aja terus, sehingga solusinya enggak akan bisa muncul. Karena walaupun benar saya salah, misalnya ketemu salahnya di saya, apakah saya akan bilang, "Wah, ternyata saya salah, yang salah ada di saya, maaf, ya, kalau begitu"? Apakah begitu? Enggak. Saya akan bilang, "Iya, saya salah, tapi tahu enggak kenapa saya salah begitu? Karena dulu kamu gitu, kan. Ingat enggak dulu waktu kamu—," nah, itu yang bikin saya begini. Lalu pasangannya bilang, "Tahu enggak kenapa saya begitu? Karena dulu kamu begitu" — akan terus muter begitu terus, nyari siapa yang salah, enggak akan selesai-selesai masalahnya.

Pak Adi: Nah, itu kenapa kita perlu datang ke psikolog — untuk membantu agar diskusinya tidak ke arah saling menyalahkan, tapi diskusinya bisa terdorong ke arah saling memahami satu sama lain. Kalau kita datang ke psikolog, nanti ketika mulai saling menyalahkan, maka psikolog bisa bilang, "Sebentar, sebentar, diskusi yang begitu enggak membantu — bisa kita mulai lagi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Anda begitu?" Nah, begitu sudah dijelaskan — "Ibu tahu enggak cerita yang tadi, kenapa begitu?" — dan sampai masing-masing memahami apa yang sebenarnya terjadi, bukan siapa yang salah.

Pak Adi: Dan biasanya, seringkali permasalahannya bukan permasalahan yang kita duga sebelumnya. Kadang-kadang suami itu merasa disalahkan, merasa enggak pernah cukup — dan istrinya kadang-kadang menyalahkan, "soalnya kamu tuh gitu," ya, dan akhirnya berantem. Suaminya merasa sudah melakukan sebanyak mungkin yang dia bisa lakukan, tapi merasa enggak cukup aja untuk istrinya — tapi di istrinya, selalu menyalahkan. Padahal, mungkin yang terjadi bukan istrinya menyalahkan, tapi sebenarnya reaksi marah dan kecewa dari istrinya itu muncul, dipicu oleh rasa takutnya. Jadi ada perasaan sekunder yang memicu perasaan primer yang tampil ke pasangan. Kenapa dia marah? Karena dia takut, bukan karena dia kesal.

Pak Adi: Nah, ketika rasa takutnya itu terungkap, dan pasangannya akhirnya mengerti kenapa dia marah — karena sebenarnya dia takut, takut ditinggalkan, takut merasa tidak penting — maka ketika pasangannya, "Oh, ternyata karena itu, toh, ternyata bukan karena aku salah, tapi karena dia takut, merasa ditinggalkan, misalnya," ketika muncul pemahaman itu, mengerti emosi yang lebih rentan dari pasangannya, dan empati itu muncul, maka problem solving mulai bisa dilakukan. Jadi, bila sudah muncul pemahaman, mengerti kenapa pasangannya begitu, baru problem solving itu mulai bisa dilakukan. Kalau enggak, maka akan sulit sekali. Karena, kenapa saya harus mencari solusi kalau saya yang disakiti? Kalau misalnya dia menyakiti, dia dong yang nyari solusi. Masalahnya, dua-duanya mikir begitu, solusinya enggak akan tercapai.

Pak Adi: Jadi yang pertama kali dilakukan adalah pahami dulu kenapa pasangan kita begitu, dan kita juga mesti paham kenapa kita begitu. Kalau sulit melakukannya sendirian, karena terjebak di saling menyalahkan, datang ke psikolog agar bisa dibantu komunikasinya. Itu kenapa tadi disampaikan bahwa permasalahan utama itu perselisihan dan terus-menerus, ya — kenapa perselisihannya terus-menerus? Karena kita mencoba untuk memaksakan problem solving dulu, mencari solusi dulu, saat mereka masih saling merasa disakiti oleh pasangannya, saat masih belum ngerti kenapa pasangannya begitu ke dia. Nah, enggak ketemu jalan tengahnya, karena saling enggak mau nyari jalan tengah — sama-sama merasa bahwa pasangannya yang harus memperbaiki keadaan, karena pasangannya yang salah. Nah, itu yang membuat sulit sekali untuk mencari solusi, sehingga akhirnya cuma ada dua pilihan: bertahan atau berpisah.

Pak Adi: Ini yang terjadi ketika kita lakukan di ruang konseling, Bapak Ibu. Ketika akhirnya permasalahannya diurai satu-persatu, dan ketika masing-masing sudah bisa, "Oh, ternyata yang terjadi sebenarnya bukan itu, tapi ini, toh" — ketika itu mulai bisa terlihat, maka solusinya bahkan akan dicari oleh pasangan itu sendiri. Mereka akan tergerak untuk mencari solusi, karena akhirnya mereka paham masalahnya di mana. Itu kenapa problem solving susah sekali dilakukan di pasangan yang berkonflik — karena mereka mencoba untuk menyelesaikan permasalahan dulu, sebelum masing-masing muncul empati bisa memahami. Itu kenapa analoginya, problem solving itu seperti dokter bedah yang membedah pasiennya — perutnya dibedah, disayat dengan pisau. Bayangkan apa yang terjadi kalau sudah disayat tapi belum dibius — Bapak Ibu yang disayat, teriak, "ya, sakit," gitu kan. Kenapa begitu? Karena disayat belum dibius dulu. Nah, pemahaman itu, memahami pasangan, itu obat biusnya. Jadi enggak boleh kebalik — dibius dulu, baru problem solving.

Pak Adi: Di pendekatan terapi IBC, itu namanya ...

Selengkapnya, tonton videonya ya..