DUA POLA KERETAKAN — TAHUN KELIMA VS TAHUN KEENAM BELAS

Host: Nah, ngomong-ngomongin keretakan, nih. Mas Adi, apa sih kira-kira masalah di tahun-tahun awal pernikahan sama yang sudah bertahun-tahun menikah? Ini dua kata yang berbeda, nih — tahun-tahun awal menikah sama yang sudah bertahun-tahun menikah.

Mas Adi: Pertanyaannya bagus banget. Itu pertanyaan yang seringkali sulit untuk dijawab, tapi ada riset yang mengindikasikan bahwa perceraian itu terbagi dalam dua jenis.

Host: Oke.

Mas Adi: Ada perceraian yang munculnya sekitar tahun ke-5-an pernikahan — 5,2 sampai 5,6, kalau saya enggak salah. Dan ada perceraian yang rata-rata usianya itu sekitar 16 tahunan. Jadi mayoritas perceraian itu munculnya di 5 tahun pertama atau 16 tahun setelah menikah. Tapi dua jenis perceraian itu jenis hubungannya berbeda. Mereka yang pernikahannya bubar di 5 tahun pertama itu biasanya mereka yang berantemnya sering panas. Artinya mereka yang sering saling menyalahkan, nyari siapa yang salah, nyari siapa yang benar. Yang tadi, ya, konflik — "enak aja, emang aku yang salah, emang kamu sudah benar," gitu kan, yang satu merasa disalahkan, enggak terima, begitu. Itu rentan membuat — dan biasanya mereka yang pola hubungannya begitu, bila tidak ada perbaikan yang dilakukan, rata-rata kebanyakan hubungannya sekitar 5,2 tahun sebelum bubar pernikahannya. Tapi ada juga yang hubungannya selamat sampai 5,2 tahun, tapi bubarnya di 16 tahunan — 16 tahun — mereka yang hubungannya datar-datar aja.

Host: Nah, ini yang 16, gimana, nih? Kalau tadi kan yang 5 tahun pertama itu panas terus, ya? Nah, ini kalau yang 16, yang Mas Adi tahu, seperti apa? Yang enggak saling peduli, hidup masing-masing?

Mas Adi: Masing-masing, ternyata, iya. Kenapa mereka akhirnya nunggu sampai 16 tahunan? Ketika, ya udahlah, ngapain lagi — dijalanin sama aja kayak hidup sendiri-sendiri, anak udah selesai, ini sudah selesai, ya udah, enggak ada lagi yang diperjuangkan, kita pisah, gitu. Tapi intinya, yang pertama itu kemampuan resolusi konflik, yang kedua kemampuan mengekspresikan kasih sayang kepada pasangan.

Host: Ha.

Mas Adi: Iya. Jadi kalau misalnya kemampuan kita kurang di resolusi konflik, nah, biasanya kita panas di 5 tahun pertama. Tapi kalau misalnya kemampuan kita kurang di ekspresi emosi dan kasih sayang ke pasangan, nah, mungkin kita akan bisa survive di 5 tahun pertama, tapi di tahun ke-16 mungkin kita akan merasa, "ngapain, sih, ini dilanjutin," gitu.

Host: Oh, berat, ya. Jadi ada dua keterampilan yang dibutuhkan.

Mas Adi: Ekspresi emosi dan resolusi konflik.

Host: Betul, betul, betul, betul. Jadi keterampilannya perlu disiapin, kan?

Mas Adi: Banget, banget, banget.

Host: Sudah jelas, ya. Eh, LBDs, di 5 tahun pertama — kalau ini, maaf, nih, mungkin LBDs yang nonton video ini memang sudah menikah, ya — semisal kalau memang udah di 5 tahun awal kayaknya ribut-ribut terus, kayaknya harus hubungi Mas Adi, ya?

Mas Adi: Psikolog pernikahan enggak cuma saya. Banyak, maksudnya, psikolog pranikah enggak cuma saya, ada. Dan kadang-kadang, yang namanya psikolog pernikahan, psikolog pranikah itu, cocok-cocokan.

Host: Oke. Oh, cocok-cocokan.

Mas Adi: Jadi jangan patah harapan bila ternyata kurang pas, dan enggak harus ke satu orang, ada banyak. Yang penting terus bergerak maju.

Host: Gitu.

Mas Adi: Yang penting terus belajar. Yang penting terus mencari cara bagaimana caranya untuk improve hubungannya dengan baik. Belajar apa yang dibutuhkan. Kalau ngerasa enggak pas, cari lagi yang lain. Terus belajar, jangan berhenti untuk mencari jalan supaya bisa bareng.

PESAN PENGHULU DAN TIGA JENIS KEBAHAGIAAN

Host: Gini, Mas Adi, aku tuh kadang-kadang suka bawain acara pernikahan juga, ya. Ini tuh ada beberapa pesan yang memang disampaikan oleh penghulu sebelum akad nikah. Saya minta pendapatnya Mas Adi, ya. Jadi, "jangan pernah mencintai pasanganmu karena fisiknya, karena suatu saat nanti fisiknya pun akan berubah. Dan jangan mencintai pasanganmu karena harta, karena harta pun suatu saat nanti akan berkurang." Menurut pandangan Mas Adi sebagai psikolog?

Mas Adi: Kalau saya, kebahagiaan itu tidak hanya urusan kesenangan.

Host: Oh, visual, mata, dan lain-lain?

Mas Adi: Kesenangan visual itu kesenangan. Lalu kenyamanan itu juga kesenangan. Menduga bahwa yang bikin kita bahagia adalah yang senang-senang begitu, ya, dan yang tidak bikin kita menderita.

Host: Heeh.

Mas Adi: Tapi kita perlu tahu bahwa yang namanya senang itu, kadang-kadang, ambangnya sering naik seiring dia dipuaskan. Pernah nyoba buat makan makanan enak?

Host: Pernah, dong.

Mas Adi: Coba dimakan tiga kali sehari, sebulan, makan itu terus — masih enak, enggak?

Host: Enggak. Biasa aja.

Mas Adi: Kalau biasa aja, kita akan nyari yang lebih enak lagi, lebih enak lagi. Suatu saat nanti enggak ada yang lebih enak lagi, maka kita akan bingung mesti nyari apa lagi. Karena udah enggak ada yang enak, kita jadi bingung. Iya, kan?

Host: Betul, betul.

Mas Adi: Kebahagiaan macam apa itu, karena enggak ada lagi sensasi yang lebih menyenangkan, yang lebih enak dari itu. Sehingga, ketika yang kita cari adalah kesenangan yang begitu, suatu saat kita akan ada pada titik di mana kita sulit lagi nyari yang lebih bahagia dari apa yang kita dapatkan.

Host: Oh, gitu, ya? Enggak, sih, dalam?

Mas Adi: Nah, sehingga kalaupun dia cantik sekarang, ganteng sekarang, suatu saat kecelakaan, terus tidak lagi semenarik itu — apakah artinya kita enggak bisa bahagia? Itu pertanyaannya, kan. Karena ternyata kebahagiaan itu enggak hanya kesenangan. Ada kebahagiaan lain — orang-orang yang bisa bahagia ketika hidupnya tidak semenyenangkan itu.

Host: Iya, betul, kan?

Mas Adi: Ada, loh, orang-orang yang tetap bahagia — kehidupannya enggak menyenangkan, tapi mereka bahagia. Kenapa mereka bahagia? Karena mereka merasa bahwa mereka menjalani kehidupan yang baik, a good life. Mereka menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut, sehingga mereka merasa, "aku sudah menjalankan kehidupan yang baik," dan mereka merasa hari ini jauh lebih baik dari hari kemarin.

Host: Heeh.

Mas Adi: Mereka merasa ada kepuasan dalam diri mereka menjalani kehidupan — kebahagiaan. Nah, kalau tadi kesenangan itu — ini menjalani sesuatu yang lebih baik, menjalani nilai yang mereka pegang teguh, lebih baik dari hari sebelumnya, yang setiap kali mereka lakukan itu enggak ada batasnya, dan setiap kali berhasil, mereka tumbuh jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Itu jauh lebih membahagiakan.

Host: Heeh.

Mas Adi: Nah, lalu ada lagi yang bilang bahwa masih mending, kalau ternyata pasangannya jadi buruk rupa, misalnya, ya — ada orang yang enggak dapat pasangan.

Host: Hah?

Mas Adi: Iya, kan? Gimana dia bisa bahagia kalau misalnya dia tidak mendapatkan pasangan yang mestinya dia dapatkan? Tapi sebenarnya, yang namanya kebahagiaan itu prasyaratnya bukan pasangan. Ada orang yang bisa bahagia tanpa pasangan, kalau dia menjalani kehidupan yang baik, dan kalau dia melayani sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri. Misalnya, dia ikut aktif di kegiatan kemanusiaan — dia melayani sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, sehingga akhirnya dia merasa, semakin dia berhasil melakukan itu, semakin dia merasa hidupnya punya arti. Bahagia juga, tapi bukan bahagia karena kesenangan duniawinya.

Host: Itu kan, ya, banyak faktor.

Mas Adi: Ada tiga jenis kebahagiaan. Tapi kadang-kadang, kalau fokus kita adalah kecantikan fisik, kegantengan fisik, atau kenyamanan kepribadian pasangan, kecocokan — semua terkait dengan senang enggak senang — maka itu hanya satu dari tiga jenis kebahagiaan. Yang kalau kita fokus ke itu saja, maka akan ada titiknya di mana kita menderita, karena akan selalu ada yang lebih menyenangkan dari itu. Iya, enggak, sih?

Host: Kalau misalnya kita sudah bosan, nyari yang lain, dong? Dasar manusia emang enggak pernah puas, ya?

Mas Adi: Iya, karena bosan, kan. Tapi ada kebahagiaan yang anti kebosanan — kebahagiaan yang enggak akan pernah menemukan kebosanan, karena semakin dia levelnya tinggi, semakin kita jadi manusia yang lebih baik. Karena yang dicari bukan kesenangan, tapi kesesuaian dengan nilai-nilai yang kita anggap baik untuk dijalani. Semakin hari kita akan jadi semakin baik, semakin puas dengan apa yang kita lakukan, dan semakin jadi orang yang lebih baik. Dan pasangan dapat manfaatnya, jadi lebih sayang ke kita. Anak dapat manfaatnya, jadi lebih baik, jadi lebih puas. Multiplying effect-nya itu gede sekali, kalau misalnya kebahagiaannya bukan dari kesenangan, tapi dari believing a good life, dan serving sesuatu yang jauh lebih besar dari kita sendiri.

Host: Ah, itu dia, ya, LoveBirds. Dalam banget, dia.

Mas Adi: Termasuk melayani suami yang tidak menyenangkan.

Host: Wah, itu luar biasa.

Mas Adi: Atau melayani istri yang tidak menyenangkan. Itu luar biasa sekali. Misalnya, bayangkan suatu hari pasangan kita harus terbaring di tempat tidur, dan ketika kita mencoba untuk lebih baik dalam melayani pasangan kita setiap hari, mencoba untuk lebih menikmati melayani, mencoba untuk serving better, demi misalnya kehidupan after life yang lebih baik misalnya, maka semakin kita menjalaninya dengan melayani lebih baik, kepuasan itu akan semakin besar. Dan kadang-kadang ada banyak orang yang lebih bahagia dari sebelumnya, loh, ketika pasangannya enggak sesehat sebelumnya.

Host: Betul, betul, gitu, enggak, sih?

Mas Adi: Betul, betul banget.

Host: Ya, tapi memang benar banget, ya, Mas Adi. Maksudnya, apa yang disampaikan Mas Adi ini memang kerasa banget. Jadi kalau LBDs cari yang lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi, kayaknya enggak ada habisnya, ya.

Mas Adi: Ya, contoh, kayak misalkan pasangan ataupun Lovers yang sekarang masih sendiri, gitu, ya — aku pengen cari yang paling ganteng, paling perfect — belum tentu dia mau sama kita.

Host: Oke. Iya, enggak, sih?

ALASAN UTAMA PERCERAIAN — PERTENGKARAN, BUKAN EKONOMI

Host: Oke, by the way, Mas Adi, selama berpengalaman sebagai seorang psikolog, alasan apa sih yang bikin perceraian ini banyak banget di Indonesia, selama mungkin menghandle beberapa klien? Apa alasan-alasan yang paling banyak?

Mas Adi: Kalau based on statistik, sih, berantem, bertengkar. Itu paling banyak. Orang mengatakan bahwa permasalahan yang bikin orang bercerai adalah ekonomi, tapi data statistik menunjukkan bahwa yang bikin orang bercerai itu hampir 70% itu bertengkar, berantem. Nah, kenapa orang bisa bertengkar, kenapa bertengkarnya sulit sekali diatasi? Karena bertengkarnya bukan memperdebatkan solusi yang sama-sama menang, tapi memperdebatkan siapa yang salah dan siapa yang lebih baik. Kalau misalnya fokus diskusinya nyari siapa yang salah, nyari siapa yang lebih baik — nah, gitu biasanya. Dan saya merasa bahwa ketika terbiasa untuk nyari siapa yang lebih baik, siapa yang salah, ada titiknya nanti di mana kita dengan pasangan jadi seperti musuh, tuh. Iya, kan? Hubungan di rumah jadi panas, karena kita enggak nyaman buat melakukan apa-apa, takut salah melakukan apa-apa, takut salah, gitu, kan, ya, sehingga rumah itu enggak kerasa seperti rumah lagi — karena di rumah itu seperti ruang penghakiman, di mana ketika masuk rumah, kita harus siap untuk melihat siapa yang salah di antara kita, gitu. Iya, enggak, sih? Nah, ketika itu yang terjadi, enggak nyaman buat ada di rumah. Biasanya, terutama di 5 tahun pertama, permasalahan utamanya itu pertengkaran — itu banyak sekali terjadi. Dan kadang-kadang, cara untuk membantu mereka bisa membangun kehidupan yang lebih baik itu enggak bisa dengan cara disuruh damai — "ayolah, damai aja, ya, saya juga pengin damai, tapi gimana caranya," gitu, kan. Jadi permasalahan terbesar yang seringkali saya hadapi adalah ketika polanya itu panas, saling bertengkar, apalagi sudah saling menyiksa, sudah saling terasa masing-masing egois, udah merasa bahwa masing-masing itu saling merugikan. Bahkan kayaknya dia jahat banget — itu yang biasanya rentan sekali untuk masuk ke dalam, secara psikologis, itu disebut sebagai negative reciprocity. Jadi, kayak pasir hisap — kita gampang berantem tapi susah baikan.

Host: Analoginya, Mas.

Mas Adi: Nah, kalau kita ke situ, kalau misalnya ada dalam hubungan, ya, kita gampang banget buat berantem — salah dikit aja, berantem, tapi baikannya susah banget. Nah, akhirnya kita berantem-berantem terus. Biasanya itu yang rentan untuk pecah, terutama di 5 tahun pertama pernikahan.

Host: Oke, ya. Jadi mungkin alasan yang tadi Mas Adi juga sampaikan, ya, mungkin rumah itu ibarat jadi sebuah tempat penghakiman, gitu, ya. Mungkin itu alasan kenapa misalkan, ya, suami pulang telat — mungkin ke rumah bisa jadi —

Mas Adi: Heeh.

Host: — ya, daripada gua pulang cepet kan gua ngopi dulu, mana gua udah pusing di tempat kerjaan, gua balik kayaknya bakal ribut lagi, nih, mending saya healing aja, habis itu hilang.

MENJAGA KESEHATAN HUBUNGAN VS TERUS BELAJAR

Host: Oke, Mas Adi, sebagai pihak ketiga, ya, konselor ataupun mungkin sebagai psikolog ini, dalam menjaga — seberapa penting, sih, dalam menjaga kesehatan dalam sebuah hubungan rumah tangga? Menjaga kesehatan apa, nih, dalam hubungan antara suami dan istri?

Mas Adi: Kesehatan hubungan itu hasil, yang enggak selalu bisa kita kontrol, enggak selalu bisa kita kendalikan. Karena hubungan yang sehat itu caranya gimana, sih? Enggak tahu.

Host: Oh, iya, benar, sih. Enggak, sih.

Mas Adi: Kita kepengin hubungan yang sehat, tapi kalau kita enggak tahu bagaimana cara untuk mewujudkan hubungan yang sehat, maka fokus kita adalah memaksakan — "ayo, dong, hubungan kita yang baik, dong." Yang baik itu gimana? Enggak tahu. Pokoknya yang baik, gitu, tapi enggak tahu caranya. Nah, tapi saya merasa jauh lebih penting — bukan menjaga kesehatan hubungan, tapi yang lebih penting adalah terus belajar bagaimana cara untuk bisa punya kemampuan membangun hubungan yang baik, jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Belajar cara-cara untuk menyampaikan pendapat, belajar cara untuk mendengarkan pendapat pasangan, belajar untuk regulasi emosi, belajar untuk resolusi konflik.

Host: Resolusi konflik itu ada empat.

Mas Adi: Kita perlu tahu, apakah ketika ada masalah kita perlu nyari solusi, atau solusinya enggak bisa dicari sehingga yang dibutuhkan adalah kompromi, atau kompromi enggak bisa dapat sehingga yang kita butuhkan adalah belajar untuk bisa berdamai dengan permasalahan yang enggak akan pernah bisa hilang. Kita mesti tahu kita mau ngarah ke mana. Itu kan harus dipelajari, baru kita bisa tahu petanya. Nah, yang perlu kita khawatirkan bukan kalau kita enggak punya hubungan yang sehat. Yang perlu kita khawatirkan adalah kalau kita enggak belajar apa yang dibutuhkan untuk membangun hubungan yang sehat. Itu yang lebih perlu dikhawatirkan. Kalau misalnya enggak pernah mau baca buku, enggak pernah mau tanya, enggak pernah mau cari informasi yang berlimpah di sekitar kita tentang bagaimana hubungan yang baik, itu jauh lebih buruk ketimbang hubungan yang berantakan tapi orang-orangnya sama-sama mau nyari.

Host: Nah, itu banget, ya.

Mas Adi: Ada banyak orang berantem, tapi mereka berdua sama-sama mau nyari — berantem, coba lagi, berantem lagi, coba lagi — jauh lebih baik daripada orang yang enggak punya masalah, tapi mereka enggak mau belajar. Suatu saat ada masalah, keterampilannya enggak ada, bubar jalan.

Host: Udah, itu, kan. Karena gini, loh, Mas Adi, terkadang ada pasangan yang memang terlihat — entah terlihat secara media sosial, terlihat secara langsung — kayak hubungannya baik-baik aja, kayaknya romantis-romantis aja, best couple banget, gitu, ya, ke mana-mana berdua, gitu, kan, pokoknya apapun berdua — eh, tiba-tiba bercerai juga, ternyata.

Mas Adi: Betul.

Host: Itu kira-kira kenapa, tuh, Mas, ada yang seperti itu?

Mas Adi: Karena fokusnya mungkin pada hasil, ya. Untuk menampilkan sesuatu yang baik di publik itu tidak butuh keterampilan untuk membangun hubungan yang baik. Itu dua keterampilan yang berbeda — keterampilan membangun hubungan dengan keterampilan memoles hubungan di muka publik, itu dua keterampilan yang berbeda. Kalau waktu kita habis untuk memoles hubungan di publik, di media sosial, dan enggak punya waktu untuk belajar cara membangun hubungan yang baik, wajar sekali bila ada masalah kita kesulitan. Tapi ada, loh, orang yang citranya baik tapi hubungan aslinya juga baik. Nah, itu yang diinginkan. Artinya, mereka menyadari bahwa dua keterampilan itu adalah dua keterampilan yang beda dan dua-duanya mesti dipelajari. Yang jadi masalah adalah kalau kita hanya fokus kepada pemolesannya — belajar bagaimana memoles, tapi enggak belajar bagaimana cara membangun.

Host: Iya, iya.

Mas Adi: Pertanyaannya bukan apakah hubungannya terlihat baik-baik aja apa enggak, tapi pertanyaannya adalah apakah kita belajar untuk bisa lebih baik dari sebelumnya dalam keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalani pernikahan.

IPAR, MERTUA, DAN MENCARI 'DEAL' BERSAMA

Host: Oke. Kalau mengenai ini, ada, enggak, sih, Mas Adi — maksudnya, kayak ada faktor lain, maaf, nih, entah orang tua atau mungkin mertua, bisa memungkinkan itu, enggak?

Mas Adi: Bisa banget. Tapi kita perlu ingat bahwa orang tua itu bukan satu-satunya permasalahan.

Host: Oh, maksudnya bisa jadi orang tuanya tidak ideal, bisa jadi orang tuanya manipulatif, kan, ya?

Mas Adi: Atau bisa jadi, bahkan, bukan orang tuanya, tapi pamannya.

Host: Jauh, ya.

Mas Adi: Bisa. Tapi sering kontak, misalnya, atau tiba-tiba adiknya harus ada di rumah, gitu, kan, ya, yang kadang-kadang menimbulkan kekhawatiran atau lain sebagainya. Jadi itu ada terlalu banyak hal yang enggak bisa kita kendalikan. Daripada mengupayakan kehidupan pernikahan yang perfect, enggak ada masalah, enggak ada celah masalah, kenapa enggak fokus kita membangun — kita tahu, enggak, sih, apa yang dibutuhkan untuk bisa membangun hubungan dengan siapapun pasangan kita nanti? Kayak apapun sekitarnya nanti, kita tahu, enggak, sih, apa yang dibutuhkan? Keterampilan apa yang dibutuhkan? Kalau sudah tahu, kita latih, enggak, sih? Apakah hari ini lebih baik dari hari sebelumnya? Fokus aja ke situ, daripada fokus — kalau misalnya kita fokus orang tuanya bagaimana, keluarganya bagaimana, enggak akan ada habisnya, karena akan ada potensi masalah lain yang harus kita cek juga. Saya setuju bahwa ketika menikah itu enggak hanya dua orang, tapi juga dengan keluarga. Artinya kita perlu untuk mengenalkan pasangan kita ke keluarga, melihat gimana bisa nge-blend apa enggak. Tapi bahkan ketika sudah nge-blend sekalipun, tetap aja ada potensi ...

Selengkapnya, lihat videonya ya..