PEMBUKAAN

Host: Hai, welcome back on Wedding Podcast, dan masih di sesi Odading, obrolan dunia wedding. Dan khusus di Wedding Podcast kali ini, ini khusus buat kamu LBDs yang mungkin saat ini lagi bertarung dengan pikiran kamu: apakah kamu salah memilih pasangan, atau emang beneran salah pilih pasangan? Atau mungkin tujuan kamu nikah adalah untuk mengurangi masalah. Tapi tahu enggak, pernikahan itu justru nambah masalah, loh, sebenarnya. Kalau memang kamu ada di situ, tenang. Di Wedding Podcast kali ini kita sudah menghadirkan seorang psikolog. Di samping saya sudah ada Mas Adi. Hai, Mas Adi.

Mas Adi: Halo. Masuk, Bu.

Host: Halo juga. Gimana kabarnya?

Mas Adi: Alhamdulillah baik. Karena kalau seorang psikolog emang harus selalu baik, ya, secara fisik dan juga mental, supaya bisa melayani dengan baik.

Host: Oke. Tadi di awal aku udah nyempil nih, ee, Mas Adi, ya. Karena memang kan sekarang buat anak-anak sekarang kayaknya banyak banget hal-hal yang dipikirkan, atau mungkin istilah kerennya sekarang, terlalu overthinking, gitu, ya. Di kacamata seorang Mas Adi sebagai psikolog, gimana Mas Adi melihat hal tersebut?

OVERTHINKING DAN EKSPEKTASI PERNIKAHAN

Mas Adi: Sebenarnya kalau overthinking itu wajar, ya, karena kita ingin mempersiapkan dengan baik, kita enggak kepengin salah pilih pasangan. Tapi kadang-kadang yang jadi masalah adalah kalau kita melihat bahwa pernikahan itu adalah upaya supaya kita bisa hidup dengan lebih enak, lebih nyaman. Karena kita merasa dengan menikah maka ada pasangan yang bisa bantu. Kalau misalnya kita menikah harapannya kita enggak salah pilih pasangan, sehingga enggak ada permasalahan di dalam pernikahan. Padahal di dalam pernikahan itu pasti ada masalah.

Host: Oke, benar.

Mas Adi: Enggak mungkin enggak ada masalah. Kalaupun misalnya kita nyari orang yang pas seratus persen cocok dengan kita, misalnya ketemu nih orang yang seratus persen cocok. Tapi kan yang namanya manusia itu berubah. Kita yang sekarang beda dengan kita yang lima tahun lalu. Sekarang kita cocok, lima tahun ke depan belum tentu cocok. Jadi kalau misalnya merasa ada masalah, enggak ada kecocokan, itu yang membuat kita memutuskan untuk lepas — mau sampai kapan begitu?

Host: Oh, karena masalah itu sebenarnya bukan untuk mempermudah kehidupan, bukan untuk mempermudah kita dengan dapetin pasangan yang bisa membantu?

Mas Adi: Tapi pernikahan itu adalah cara untuk hidup bareng, membangun kehidupan bareng-bareng, lalu memecahkan permasalahan bersama-sama, lalu untuk tumbuh bareng. Yang kadang-kadang ada orang bilang bahwa marriage itu scary. Marriage is scary. Tapi kalau saya melihat, marriage itu malah healing.

Host: Oh, marriage is healing.

Mas Adi: Kenapa dia healing? Karena dengan menikah, maka kita akan ketemu orang yang berbeda dengan kita. Karena kita berbeda, artinya kita mesti nyari jalan tengah. Tadinya kita ekstrem kiri, ketemu orang yang ekstrem kanan, lalu kita harus nyari jalan tengah, kan? Tapi karena kita nyari jalan tengah, kita jadi ke tengah. Tadinya kita abnormal ke kiri, yang satu abnormal ke kanan, kita jadi ke tengah. Sehingga marriage itu membuat kita jadi lebih normal dari sebelumnya, menghilangkan ekstremitas yang kita dapatkan dari pengasuhan yang kemarin mungkin kurang sempurna dari orang tua. Tapi masalahnya, karena dia healing, namanya obat kan pahit.

Host: Betul.

Mas Adi: Menikah juga begitu — pasti ada pertengkaran yang kita mesti nyari solusi. Nyari solusi yang enggak gampang. Sehingga yang perlu disiapkan sebenarnya bukan pilih pasangan yang cocok, tapi yang perlu dipersiapkan adalah membangun keterampilan yang dibutuhkan, supaya nanti kita bisa siap membangun hubungan dengan siapapun pasangan kita nanti.

Host: Oke, ya. Udah dapat, ya, garis tengahnya. By the way, tadi sedikit sama Mas Adi sudah disampaikan bahwa ternyata ada keterampilan yang dibutuhkan, ya.

EMPAT HAL YANG SEBAIKNYA DIHINDARI SAAT BERTENGKAR

Mas Adi: Ada banget. Butuh banget keterampilannya. Misalnya, bagaimana cara menyampaikan kepada pasangan, bagaimana cara mendengarkan pasangan.

Host: Oke.

Mas Adi: Bahkan dalam komunikasi, ada empat hal yang sebaiknya tidak dilakukan. Karena kalau empat hal itu dilakukan, maka kita akan terjebak dalam pola negativitas yang membuat kita gampang berantem tapi susah buat baikan.

Host: Wow, apa aja tuh?

Mas Adi: Pertama, nyari siapa yang salah.

Host: Eh, kayaknya itu nomor satu. Emang benar nomor satu, ya?

Mas Adi: Iya, kan? Tapi biasanya nyari siapa yang salah itu — misalnya kita berantem, nyari siapa yang salah di antara kita, niatnya baik. Niatnya untuk mencari tahu siapa yang mestinya memperbaiki diri, gitu kan, ya. Lalu apa yang mesti kita lakukan kalau misalnya ada yang salah — oh, kamu yang salah, kamu yang memperbaiki; saya yang salah, saya yang memperbaiki. Masalahnya, kalau kita nyari siapa yang salah dalam pernikahan, itu enggak ada permasalahan yang disebabkan oleh satu orang. Selalu disebabkan oleh dua orang. Kenapa Mas Abu begitu? Karena saya begini. Kenapa saya begini? Karena Mas Abu begitu, kan. Sehingga kalau kita nyari siapa yang salah, yang disalahkan enggak bakal mau terima.

Host: Nah, itu biasanya, kan. Oh, iya. Kalaupun benar, oh iya, oke, saya salah — memangnya kamu sudah benar, gitu?

Mas Adi: Dibalikin lagi. Betul, betul, betul. Enggak ada gunanya. Dalam pernikahan, yang dibutuhkan adalah kita nyari: kamu maunya apa, saya maunya apa, baru kita akan bisa nyari jalan tengah yang dua-duanya bisa dapat. Tapi kalau yang kita cari adalah siapa yang salah, ketemu pun siapa yang salah, kayaknya enggak bisa dapat jalan tengah karena kita enggak tahu maunya apa.

Host: Nah, kan. Benar, betul, betul.

Mas Adi: Nyari siapa yang salah enggak akan bisa membantu pertengkaran jadi lebih baik. Itu akan membuat pertengkaran jadi lebih buruk, karena kita berupaya untuk mencari siapa yang salah, walaupun niatnya baik.

Host: Betul, betul. Itu yang pertama, ya.

Mas Adi: Yang pertama. Yang kedua, kalau kita nyari siapa yang lebih baik.

Host: Wow, oke. Tadi kan siapa yang salah, sekarang siapa yang lebih baik? Aku dong, gitu, ya?

Mas Adi: Tapi kalau benar saya lebih baik, artinya kamu lebih buruk dari saya. Dan pasangan akan merasa direndahkan — "lho, tunggu dulu, gitu, memang kamu sudah baik apa?"

Host: Gitu, kan? Bahas secara psikologis, memang beneran banget, nih.

Mas Adi: Iya, kan. Betul. Plus, kalaupun kita dapat siapa yang lebih baik, kita tetap enggak bisa ketemu jalan tengahnya, karena jalan tengah hanya bisa didapat kalau saya tahu maunya saya apa, Mas Abu tahu maunya apa, lalu nyari apa yang bisa dua-duanya dapat. Tapi kalau nyari siapa yang lebih baik, kita enggak akan bisa nyari jalan tengah.

Host: Betul, betul, betul. Itu betul banget. Itu yang kedua.

Mas Adi: Kedua. Ketiga, kalau kita saling membela diri, tidak mau salah. Misalnya kalau disalahkan, respon kita biasanya menjelaskan — "enggak, aku tuh gini," gitu. Kalaupun misalnya kita jelaskan kenapa kita kemarin salah, kenapa kita kemarin enggak lebih baik, tetap aja enggak dapat maunya apa, kan. Dan kalau misalnya kita bela diri, pasangan ngerasa kita enggak mau dengerin. Berantem lagi. Kalau misalnya pasangan ngerasa teguran atau omelan kayak begini enggak bikin dia sadar, dia malah tambah ngeles, tambah lagi kaliber omelannya supaya dia sadar — kan berantem, tuh. Karena kita ngebela diri, bukan fokus untuk mendengarkan.

Host: Kadang-kadang orang kalau misalnya berantem, orang-orang kan seringkali bilang, "belajarlah untuk mendengarkan."

Mas Adi: Saya dengerin, kok, tapi dengerinnya itu dengerin buat menjawab.

Host: Oke, benar. Bukan dengerin buat memahami, ya.

Mas Adi: Iya. Mestinya kita memahami maunya apa, gitu, kan. Untuk memahami, oh, maksudnya maunya apa. Oh, dia maunya gini, saya maunya begini, jalan tengahnya kira-kira apa, ya? Tapi ini kita dengerin buat menjawab — oke, silakan ngomong terus. Nah, giliran saya, gini, yang kamu bilang tadi itu benar-benar gini.

Host: Oh, iya, benar. Mendengarkan untuk meng-counter, ya.

Mas Adi: Untuk mencounter. Udahlah, maunya enggak dapat, tapi yang satu merasa apa yang disampaikan itu enggak didengerin. Berantemnya tambah parah. Jadi, membela diri enggak ada gunanya.

Host: Betul sekali, ya. Terakhir, yang keempat, Mas Adi?

Mas Adi: Diamin.

Host: Oh, itu enggak boleh?

Mas Adi: Enggak. Kalau kita mendiamkan, maka pasangan akan merasa seperti ditinggalkan, dicuekin. Karena mudah sekali bagi kita untuk merasa sakit hati ketika merasa ditinggalkan oleh pasangan, dan akhirnya melakukan segala cara yang kita bisa buat narik dia lagi balik ke kita. Bayangin, udah dijelasin, tapi pasangan diam aja. Jadi kayaknya dia enggak peduli, kayak dia udah enggak mau balik lagi. Apa yang terjadi? Kita jadi semakin pengin, gimana caranya supaya kamu balik lagi ke saya, gitu, kan, ya. Nah, akhirnya berantemnya tambah, plus enggak dapat maunya apa.

Host: Iya, kan?

Mas Adi: Padahal, dalam berantem, untuk nyari jalan tengah yang kita butuhkan adalah nyari: kamu maunya apa, saya maunya apa, terus apa yang bisa dilakukan agar jalan tengahnya bisa dapat — kamu maunya dapat, saya maunya dapat. Tapi kalau diam, gimana bisa tahu maunya apa?

Host: Benar banget, ya. Oke, by the way, LBDs, ini memang pembahasannya sepertinya sudah mulai masuk, ya. Cuma gini nih, Mas Adi, sekarang pernikahan memang mostly umur-umur kelahiran tahun 2000-an, lah, ya, Gen Z lah, seperti itu. Nah, ini yang memang ditanyakan: apakah ada batasan minimal usia dalam sebuah pernikahan?

USIA IDEAL UNTUK MENIKAH

Mas Adi: Kalau by riset, ada. Jadi umumnya riset-riset di psikologi itu mengindikasikan bahwa usia pas itu sekitar dua puluh lima sampai dua puluh delapan tahun.

Host: Oke.

Mas Adi: Kalau misalnya kurang dari itu, biasanya emosinya masih kurang stabil. Tapi belum tentu juga, karena sebenarnya regulasi emosi itu lebih kepada keterampilan. Jadi ada orang yang usianya masih belum sematang itu, tapi keterampilannya sudah lebih matang dari usianya. Kan, ada juga. Tapi di sisi lain, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nikah itu sebaiknya usianya agak tuaan, karena ketika kita sudah agak tuaan, kita akan bisa lebih mengelola emosi dengan lebih baik. Bahkan usianya itu menikah sekitar empat puluh sampai enam puluh tahun. Itu beberapa pandangan.

Host: Betul, sih, betul.

Mas Adi: Cuma masalahnya adalah ada batasan biologis yang perlu kita pertimbangkan juga bila kita ingin memiliki keturunan. Karena kalau misalnya kita punya anak di usia empat puluh tahun, mungkin kondisi biologis kita sudah tidak sefit ketika kita usia dua puluh lima tahun. Sehingga mungkin akan ada risiko keturunan kita memiliki kondisi fisiologis yang tidak seideal yang kita harapkan. Nah, ada kemungkinan itu. Lagi pula, kalau misalnya kita menikah, bayangkan, umur dua puluh delapan aja — kalau kita pengin punya anak banyak, misalnya, umur dua puluh delapan menikah, enggak bisa langsung punya anak, tuh. Misalnya, satu tahun setelahnya, biasanya enggak langsung, ya. Kalau misalnya satu tahun kemudian punya anak, punya anak itu butuh waktu satu tahun sampai dia lahir, artinya dua tahun baru ada anak pertama. Kalau pengin anak kedua, kalau lahirannya normal — kalau lahirannya caesar, butuh waktu untuk tunggu minimal berapa tahun, gitu. Nah, sehingga itu juga perlu kita pertimbangkan, kita rencanakan, kita pengin punya anak berapa. Dengan usia itu memungkinkan kita bisa mendapatkan anak sejumlah yang kita rencanakan sebelumnya. Nah, itu juga perlu kita pertimbangkan. Dan kadang-kadang, mungkin enggak masalah, misalnya saya punya anak satu, gitu kan, enggak masalah. Tapi kalau misalnya kita menikah umur enam puluh tahun, belum anak kita menginjak usia remaja, bapaknya sudah enggak ada.

Host: Iya, benar, benar.

Mas Adi: Nah, apakah itu adalah hal yang sudah kita pertimbangkan sebelumnya atau enggak? Jadi saya rasa jawabannya itu enggak straightforward, enggak bisa hitam-putih. Tapi kita perlu mempertimbangkan, apakah kita sudah punya indikasi bahwa kita sudah siap untuk membangun, menjalani pernikahan. Lalu apakah kita sudah mempertimbangkan rencana masa depan, ingin punya anak berapa. Lalu nanti kita kira-kira di usia sekian, anak kita sudah di usia berapa, sehingga kita bisa merencanakan kehidupannya dengan lebih baik, gitu. Nah, ketika kita sudah merencanakan itu, sebaiknya kita memilih usia yang selaras dengan rencana kita ke depan. Tapi pada dasarnya, patokannya sekitar dua puluh lima sampai dua puluh delapan, itu biasanya kesepakatan di dunia akademis yang ideal.

Host: Oke, LBDs. Tapi itu memang secara akademis, ya. Buat LBDs yang mungkin nih, Mas Adi, kayaknya lagi berjuang, gitu, ya — aduh, aku udah lewat dari Golden Age nih, aku udah lewat dari mungkin dua puluh delapan tahun tadi, kan.

Mas Adi: Enggak apa-apa, ya. Terus berjuang aja.

PERNIKAHAN SEPERTI BIKIN RUMAH

Host: Karena memang, ya, tadi apa yang disampaikan oleh Mas Adi, bahwa memang mencari pasangan itu, ya, jangan yang kayak perfect-perfect banget, ya. Karena memang, kalau yang aku pengin, cari yang cocok banget itu, memang agak sedikit sulit, atau gimana, Mas Adi?

Mas Adi: Saya percaya bahwa pernikahan itu seperti bikin rumah.

Host: Oke, gimana tuh, Mas Adi?

Mas Adi: Bikin rumah maksudnya, kalau misalnya kita bikin rumah, enggak mungkin kita beli rumah itu perfect seratus persen.

Host: Oh, ini oke.

Mas Adi: Biasanya ketika bikin rumah, mesti ada bocornya, yang baru ketahuan setelah musim hujan, misal.

Host: Iya, kan? Benar, benar, sih, benar.

Mas Adi: Dulu, musim kemarau enggak ketahuan, tuh, kelihatannya perfect-perfect aja, tapi ternyata hujan baru ketahuan bocor. Atau, kalaupun dia enggak bocor, biasanya lima tahun kemudian itu baru muncul masalah, karena ada bagian yang aus dan sebagainya, yang kita mesti siap untuk terus diperbaiki. Jadi saya rasa, mencari pasangan yang perfect itu enggak selalu memungkinkan, karena tetap akan ada masalah yang perlu kita hadapi. Plus, kalaupun bayangkan misalnya akhirnya kita mendapatkan pasangan yang cocok, perfect seratus persen sesuai dengan keinginan kita, pas banget, luar biasa banget — enggak mungkin, ada yang mau aja udah syukur, kan, tuh.

Host: Dengerin, tuh.

Mas Adi: Ketemu orang yang kayak gitu, seratus persen sama. Tapi kita manusia. Manusia itu berubah terus. Kita lima tahun dari sekarang itu sudah jadi orang yang berbeda. Kita aja lihat foto kita lima tahun yang lalu, dipampang di muka umum, kita malu, karena "aduh, aku," gitu, misalnya, kan. Kita jadi orang yang berbeda, pasangan kita jadi orang yang berbeda. Tadinya cocok seratus persen, apa jaminannya lima tahun lagi kita akan secocok itu dengan pasangan? Enggak mungkin kita jadi orang yang sama terus dari tahun ke tahun. Jadi pada dasarnya, dalam menikah, kita harus siap untuk menghadapi seperti apapun pasangan kita nanti.

Host: Iya.

Mas Adi: Kalau pasangan kita perfect, cocok, keluarganya mungkin masalah. Mungkin kalau misal pasangan perfect, keluarganya perfect, nasibnya enggak masalah — tiba-tiba suatu saat terjadi sesuatu, dia sakit keras, atau kita yang sakit keras, atau terjadi kecelakaan. Pasti ada masalah yang enggak pernah bisa kita prediksi sebelumnya. Saya seringkali memberikan analogi bahwa, kadang-kadang, bagi mereka yang takut untuk menikah — takut itu enggak banyak gunanya, karena seringkali kita takut, tapi kita enggak mempersiapkan apa-apa.

Host: Benar.

Mas Adi: Saya merasa pernikahan itu lebih seperti burung — burung itu enggak pernah takut untuk hinggap di ranting yang rapuh. Bukan karena burungnya percaya bahwa rantingnya kuat, tapi karena dia percaya sayapnya cukup kuat untuk menopang dia kalau rantingnya patah.

Host: Iya, iya, iya.

Mas Adi: Nah, artinya, yang perlu disiapkan bukan mencari ranting yang kuat, tapi yang disiapkan adalah menyiapkan sayapnya, agar bisa menyelamatkan saat ada masalah. Pertanyaannya, kalau kita galau mau menikah, enggak ketemu orang yang pas — kita sudah belum mempersiapkan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjembatani perbedaan dengan pasangan? Kita udah belum membangun keterampilan yang dibutuhkan untuk bisa menumbuhkan kasih sayang yang baik dengan pasangan, yang kadang-kadang ngeselin, misalnya. Apakah kita sudah belajar bagaimana cara menyampaikan pendapat yang sensitif? Apakah kita sudah belajar bagaimana cara mendengarkan? Apakah kita sudah belajar bagaimana cara melakukan regulasi emosi? Karena regulasi emosi itu kadang-kadang agak tricky, karena biasanya yang namanya emosi itu enggak selalu bisa kita atur semau kita.

Host: Betul, betul.

Mas Adi: Pernah ngerasa grogi untuk ngomong di depan umum?

Host: Oh, sangat.

Mas Adi: Kita pengin, eh, semakin kita pengin hilangin groginya, apa yang terjadi? Deg-degan, semakin grogi. Ngantuk juga, gitu — semakin kita pengin enggak bisa tidur, semakin pengin nungguin ngantuknya, semakin enggak bisa ngantuk.

Host: Betul, betul, betul.

Mas Adi: Nah, sehingga ketika kita marah dengan pasangan, semakin kita pengin marahnya hilang, yang terjadi justru semakin marah.

Host: Wah, salam, sudah, kan?

Mas Adi: Artinya, keterampilan regulasi emosi itu, apakah sudah kita pelajari, bagaimana cara mengendalikan emosi yang kadang-kadang enggak selalu bisa dikendalikan? Nah, kalau kita sebelum nikah, tapi kerjaannya cuma nyari pasangan yang cocok, akan jadi masalah. Karena kalaupun cocok, nanti pasangannya suatu saat berubah jadi orang yang berbeda, jadi enggak cocok lagi. Bukan — kita perlu menyiapkan diri untuk bisa membangun kembali kecocokan dengan seperti apapun pasangan kita nanti.

TANDA SIAP MENIKAH — RESOLUSI KONFLIK

Host: Oke. Ini, ngomong-ngomong tentang mempersiapkan nih, Mas Adi, ya. Apa sih tanda-tanda — gitu, ya — kita ini calon pengantin, ini bisa dibilang siap secara mental dan juga emosional, tuh, bisa enggak sih dilihat dari tanda-tanda kalau si A atau si B itu memang siap secara mental dan juga emosional?

Mas Adi: Enggak menjamin sebenarnya, tapi kadang-kadang memang ada hal yang perlu kita lihat — dalam pernikahan itu indikasinya apa, sih, ketika seseorang sudah siap menikah, baik itu pasangan ataupun kita. Pernikahan itu pada dasarnya menyatukan dua orang yang berbeda.

Host: Betul.

Mas Adi: Supaya kita bisa hidup bareng dengan segala perbedaan yang ada. Artinya, keterampilan yang perlu dimiliki adalah keterampilan untuk menjembatani perbedaan. Untuk menjembatani perbedaan itu, yang dibutuhkan adalah keterampilan untuk resolve konflik, untuk mencari jalan tengah, untuk mencari solusi. Nah, keterampilan itu, kita perlu lihat: apakah pasangan, ketika ada masalah, dia nyari solusi atau nyari siapa yang salah? Jadi kalau debat, kita berantem, yang kita lakukan selama berantem itu fokus nyari siapa yang salah, atau fokus untuk nyari solusi. Jadi pasangan yang biasanya matang dan siap untuk berumah tangga adalah pasangan yang, ketika berdebat, yang dilakukan adalah nyari: dia maunya apa, ya, saya maunya apa, ya. Lalu, dari yang aku dengar kayaknya kamu kepenginnya lebih kayak gini, ya — iya, aku pengin lebihnya kepengin ke gini. Gimana kalau misalnya ini, gini, nyari solusi, kan. Tapi kalau fokusnya soal kamu itu — kamu itu orangnya — nah, itu kan nyari siapa yang salah. Belum siap, tuh. Artinya, bukan resolve conflict, tapi blaming, menyalahkan orang. Dan itu ...

Selengkapnya, lihat videonya ya..