Pertanyaan Kunci Sebelum Belajar Teknik — "Ngapain Nikah?"
Pak Adi: Nah, sebelum mulai bahas yang pertama, saya ingin menyampaikan bahwa apa pun yang Bapak Ibu baca di buku itu tidak akan ada gunanya bila Bapak Ibu belum berhasil menjawab satu pertanyaan. Pertanyaannya adalah, karena Bapak Ibu menikah, kita di sini mau belajar bagaimana caranya ngobrol enak dengan pasangan, atau ngobrol enak dengan orang asing yang baru dikenal, atau bagaimana caranya ngobrol enak dengan pasangan yang hubungannya sedang tidak baik-baik saja. Masalahnya, ngobrol dengan pasangan kadang-kadang tidak gampang, berat. Faktanya, jauh lebih nyaman hidup sendiri ketimbang hidup sama pasangan. Itu fakta. [tertawa] Karena hidup sendiri itu cuma mengatasi masalah kita sendiri saja, hidup sama pasangan itu mengatasi masalah pasangan, anak, mertua, ibu, bapak kita, segala macam, semuanya diatasi.
Mengapa Kita Butuh Pasangan yang Berbeda — Menikah untuk Bertumbuh
Pak Adi: Saya penasaran, Bapak Ibu ada yang tahu tidak, pernah ada kepikiran tidak, kenapa kalau nikah itu kita mesti sama lawan jenis? Kenapa tidak sejenis saja? Kan, Bapak Ibu, perbedaan itu, konflik itu munculnya dari perbedaan, kan, ya. Semakin banyak perbedaan, semakin kita konflik, semakin konflik semakin berat. Masalahnya, kenapa Allah menyuruh kita nikah sama laki-laki dan perempuan yang jenis kelaminnya beda, yang kalau jenis kelaminnya beda sudah jelas beda dan sudah jelas konflik, kan? Dan seakan-akan alam tidak rida kalau kita dengan sesama jenis. Ya, boleh sih, hak masing-masing, tapi kalau misalnya sesama jenis, alam tidak memberikan keturunan, kan, ya.
Tiga Mindset yang Perlu Diluruskan — Pengantar
Host (Ilham): Luar biasa nih, Pak, dalam banget nih soalnya.
Pak Adi: Baik, coba share screen, ya, baru kita masuk ke slide satu. Karena kalau tidak ada itu, tidak bisa Bapak Ibu ngapain, mempelajari yang susah-susah kayak begini, karena yang saya sampaikan ini semuanya butuh effort, butuh kerendahan hati untuk belajar lagi dan untuk coba salah dan coba lagi.
Mindset 1 — Bukan Topik, tapi Kesediaan Merespons
Pak Adi: Rahasia ngobrol nyaman itu, Bapak, Ibu, bukan topiknya. Jadi kalau kita mau ngobrol sama orang, kita mikirnya topiknya apa, ya. Ketemu pun topiknya, tetap ngobrolnya tidak nyaman, karena kunci untuk ngobrol enak itu bukan pada topiknya, tapi pada responnya. Nah, banyak orang mengira bahwa ngobrol itu harus menarik, mesti pintar, lucu, penuh topik, dan macam-macam. Padahal yang dicari di pertemuan pertama itu bukan topiknya, tapi rasa amannya. Lucu pun topiknya, tapi kalau orang yang kita ajak bicara merasa tidak aman dan kita merasa kayak sibuk dengan pikiran kita sendiri, walaupun topiknya seru, tetap dia tidak mau lagi bareng kita, tidak nyaman.
Mindset 2 — Bukan Kurang Topik, tapi Fokus pada Diri Sendiri yang Bikin Canggung
Pak Adi: Yang jadi canggung di pertemuan pertama itu bukan karena kita tidak punya topik. Jadi, jangan pernah khawatir tidak punya topik, tidak tahu mau ngobrolin apa, tidak perlu dikhawatirkan. Overthinking, fokus ke diri kita sendiri, termasuk fokus ke topik dan takut salah, itu justru membuat semuanya jadi terasa dibuat-buat. Jadi tidak usah pakai persiapan, datang saja, dengarkan, karena, Bapak, Ibu, persiapan itu justru bikin kita cuma fokus sama persiapan kita sendiri, tapi lupa mendengarkan dia. [tertawa] Jadinya tidak mengalir percakapannya. Nah, itu yang bikin kita canggung, karena kita tidak siap mendengarkan dia, kita fokusnya ke topiknya, persiapannya, overthinking-nya, ketakutan kita sendiri, itu yang bikin jadi canggung.
Mindset 3 — Bukan Soal Menarik, tapi Tidak Menghakimi, Memahami, dan Menghargai
Pak Adi: Yang sebenarnya dibutuhkan saat pertemuan pertama itu bukan kitanya menarik. Ganteng boleh, Bapak, Ibu, cantik boleh, bagus, bonus itu kalau ada. Tapi lihat, banyak orang yang cantik, ganteng, menarik, pasangannya tidak seganteng, tidak semenarik itu, tidak fisiknya tidak seoke itu. Ada juga yang oke, ya, setara, lah. Tetapi apa yang sebenarnya dibutuhkan di pertemuan pertama bukan orang yang menarik. Jangan khawatir kalau Bapak Ibu bukan pribadi yang menarik, tidak usah khawatir, secara fisik, secara psikologis tidak menarik tidak apa-apa. Yang penting yang mereka butuhkan dari kita adalah tidak dihakimi, dipahami, dihargai, sudah tiga itu saja. Kalau kita fokus itu, mendengarkan dia, lalu ketika mendengarkan kita tidak menghakimi, kita mencoba untuk memahami, kita mencoba untuk menghargai.
Prinsip Pertama — Dua Kuping, Satu Mulut
Pak Adi: Nah, kalau tiga ini sudah, baru kita gerak ke step berikutnya, yaitu memahami prinsipnya. Nah, ini Bapak Ibu hanya cukup dipahami saja, setelah itu lupakan, tidak perlu dibawa dan waktu pas ngobrol dihafalkan sama memahami prinsipnya, tapi sebelumnya ini tidak perlu dihafalkan, tidak perlu mengerti saja, nanti biarkan mengalir dengan sendirinya. Tidak perlu ada topik, tidak perlu apa, yang diperlukan hanya dua kuping yang siap untuk mendengar. Ingat, Bapak, Ibu, pengingatnya adalah muka kita, coba lihat, Bapak Ibu punya dua kuping dan satu mulut. Itu artinya Bapak Ibu harus lebih banyak mendengar ketimbang menyampaikan. Dengarkan saja, tanya, dan mulut digunakan untuk mengapresiasi saja, tidak perlu dikritik, itu saja prinsipnya.
Prinsip Kedua — Makna di Balik Topik, Bukan Topiknya
Pak Adi: Kalau itu sudah clear, baru kunci kenyamanan di pertemuan pertama itu bukan topiknya, tapi makna di baliknya. Jadi bukan apa yang dia bicarakan, tapi bagaimana cara dia melihatnya. Nah, misalnya dia bilang, "Aku suka kopi." Kalau kita cuma bilang, kalau cuma topiknya doang, maka, "Oh, iya, aku juga," nah, itu cuma bicarain topiknya. Tapi yang kita butuhkan adalah kenapa dia suka kopi, apa yang ada di kepala dia sehingga dia suka kopi, bagaimana cara dia memandang kopi itu seperti apa, itu yang perlu kita tahu. Karena, Bapak, Ibu, dia suka kopi itu bisa dilihat, tapi cara dia memandang kopi itu tidak bisa kelihatan, karena itu ada di dalam kepalanya, itu yang perlu kita tanyakan, kita obrolkan supaya kita tahu banyak tentang dia.
Putar video