Mengapa Cinta Saja Tidak Cukup — Bedah Buku Attached

Diskusi Kelekatan (Attachment) dalam Pernikahan bersama Mas Adi, Psikolog — Daras Keluarga, Dares Community

  • Ketika Solusi yang Sama Berhenti Bekerja

Mas Adi: Selama menjalankan praktik dulu, saya pernah optimis bahwa semua permasalahan pernikahan itu pasti bisa diselesaikan. Jadi selama kita, suami istri, mau sama-sama berusaha, ayo kita coba, pasti bisa, begitu. Tapi memang, dalam beberapa klien, ada beberapa permasalahan yang sering jadi kendala, dan kendalanya itu kadang-kadang naik turun. Awalnya bisa dibantu, tapi kok seiring waktu itu memburuk lagi permasalahannya. Nah, dan saya kembali merasakan ini, kenapa, ya, kok sepertinya arahnya sudah jelas — kita sudah sama-sama tahu, kalau hubungannya mau diperbaiki, apa yang mestinya dilakukan, dan kalau misalnya hubungannya mau diperbaiki, apa yang mesti dihindari, sudah sama-sama tahu. Tapi kok permasalahannya terjadi lagi, terjadi lagi, terjadi lagi.

Mas Adi: Sampai saya mencoba untuk mengulik-ulik lagi berbagai literatur, ternyata ada beberapa permasalahan yang memang tidak semudah itu untuk diatasi, dan attachment style ini salah satunya — tapi bukan yang terberat. Ini salah satu yang saya rasa menjadi jawaban dari kenapa selama ini saya kesulitan untuk mengatasi beberapa permasalahan pernikahan. Sehingga saya jadi menyadari bahwa ternyata permasalahan pernikahan itu mungkin sebagian bisa dicegah kalau belum menikah. Jadi, selain pernikahannya dibantu, membuka kanal untuk membantu memperbaiki permasalahan pernikahan, tapi juga membantu agar sebelum menikah itu bisa ada konsultasi yang bisa memastikan bahwa memang terhindar dari permasalahan inkompatibilitas kepribadian. Nah, attachment style ini salah satu yang saya rasa penting, dan kalau misalnya ini diedukasi ke banyak orang, saya rasa akan bisa membantu mencegah permasalahan pernikahan itu dari sebelum pernikahannya dimulai.

Mas Adi: Nah, jadi yang akan kita bahas nanti mungkin enggak bisa semuanya, tapi mungkin di awal-awal dulu, tapi nanti bila ada pertanyaan bisa kita diskusikan bebas aja. Fokus saya dalam membahasnya nanti pada bagaimana memilih pasangan, bagaimana menguatkan pernikahan, dan bagaimana memulihkan hubungan. Ada beberapa yang berhasil, dan ternyata memang beberapa misteri yang selama ini saya hadapi ternyata sedikit demi sedikit terbuka ketika mengetahui beberapa konsep yang ada di buku Attached ini.

  • Tiga Kasus yang Belum Terjelaskan

Mas Adi: Salah satunya yang pertama yang menarik, saya rasa, kalau kita mulai dari buku ini, awalnya dari mana? Jadi ketika kita membaca buku itu, buku itu membahas tiga kasus yang sebelumnya belum dapat sepenuhnya terjelaskan oleh penulisnya. Kasus pertama itu salah satu dari pasangan yang merasa sengsara dalam pernikahannya, khawatir pasangannya tidak menganggap dia cukup menarik. Lalu terus mikirin, ini kenapa menghilang, ya? Bahkan pasangannya kadang-kadang dekat, kadang-kadang — kalau istilah anak-anak sekarang itu — di-love bombing, diberikan perhatian, tapi setelah itu hilang, enggak tahu ke mana. Saat pacaran biasanya begitu. Nah, saat menikah, itu biasanya lebih memilih untuk menyendiri daripada bareng berdua — lebih memilih untuk aktivitas sendirian. Entah itu main game, entah itu mancing, atau entah itu ngapain aja, yang penting enggak sama pasangannya. Tapi ketika hubungan mereka bermasalah, dia ngedekat lagi. Tapi habis itu, habis beres masalahnya, lepas lagi, begitu terus, dan itu bikin bingung, kenapa bisa begitu, ya. Nah, ternyata itu jadi kasus pertama yang dibahas.

Mas Adi: Kasus kedua, itu pasangan yang bingung dengan dirinya sendiri. Dia sangat menarik secara fisik, menarik secara interpersonal juga, tapi dia cepat sekali kehilangan minat dengan lawan jenisnya ketika sudah dekat. Dan ketika sudah dekat, kadang-kadang dia merasa terjebak, enggak nyaman dengan hubungannya, merasa terlalu terikat, dan rasanya kok harus sesusah ini, ya, membangun hubungan sama orang. Akhirnya dia memilih untuk lepas — enggak, minatnya tiba-tiba hilang saja setelah beberapa waktu. Dan dia sendiri bingung kenapa dia begitu, dan dia enggak mendapatkan penjelasan yang masuk akal tentang kenapa dia begitu. Tapi yang jelas, kejadiannya berulang terus, terjadi seperti itu.

Mas Adi: Lalu ada juga pasangan yang merasa benar-benar sendirian, walaupun bareng, tapi pasangannya enggak pernah mau membahas permasalahan mereka, emosi mereka, hubungan mereka. Sering pulang larut di hari kerja, lalu di hari akhir pekan dia main golf ke mana, gitu, misalnya — jadi enggak pernah ada di rumah, walaupun di rumah itu enggak pernah bareng. Nah, jadi walaupun mereka bersama, kalau dibilang komitmen — komit, sih, sampai sekarang hubungannya masih jalan — tapi rasanya kayak sendirian, dan sering merasa ditinggalkan dengan pasangannya, walaupun pasangannya ada di rumah.

Mas Adi: Nah, waktu buku ini dibuat — bukan waktu buku ini dibuat, waktu teorinya muncul — teori kelekatan muncul, kalau enggak salah, itu bukan teori yang dominan di dunia psikologi waktu itu, lebih ke teori kognitif, ya. Dan di teori kognitif waktu itu, belum sepenuhnya bisa dijelaskan kenapa tiga fenomena ini bisa terjadi. Apakah karena pikiran otomatis yang muncul? Tapi kalau pikiran otomatis muncul begitu, pikiran otomatisnya dinetralkan atau di-clear-kan, sebenarnya masalahnya enggak terjadi lagi. Tapi kok masih terjadi lagi? Apa masalahnya?

Mas Adi: Sehingga waktu itu penulisnya merasa kebingungan, apa sebenarnya yang membuat tiga kasus ini muncul. Mungkin ada teori yang bisa menjelaskan satu kasus, ada yang menjelaskan satu kasus lain, tapi satu teori yang bisa menjelaskan ketiga permasalahan ini secara integratif itu apa, belum terbayang waktu itu. Sampai akhirnya dia berkenalan dengan teori attachment, dan mulai bisa menjelaskan permasalahan-permasalahan di kasusnya.

  • Kisah Tamara dan Greg — Ketika Cinta Saja Tidak Cukup

Mas Adi: Nah, apa yang ditemukan itu ternyata, dalam hubungan, cinta aja ternyata enggak cukup. Seringkali kita bermodalkan cinta ketika membangun hubungan. Kadang-kadang kita merasa, kalau misalnya sudah cinta, apapun permasalahannya akan bisa kita hadapi bersama, gitu. Ternyata enggak. Ada beberapa fenomena di sini yang diceritakan, fenomena Tamara dan Greg. Kalau di bukunya, Tamara ini di lingkungan kerjanya termasuk orang yang sangat adaptif, mampu mengeksekusi banyak hal, dan mampu mengatasi berbagai tantangan — termasuk canggih banget untuk menghadapi berbagai macam perubahan yang ada. Tapi anehnya, performanya turun ketika dia dekat dengan yang namanya Greg.

Mas Adi: Greg ini orangnya awalnya karismatik, tapi lama-kelamaan, ketika sudah dekat, Greg ini sering menghindar. Nah, ketika sering menghindar, Tamara cemas, takut kehilangan. Enggak tahu apa yang terjadi. Apakah Tamara punya trauma tertentu di masa lalunya? Enggak dijelaskan di buku itu, apakah dulu pernah ditinggalkan oleh orang terkasih, entah itu ayah atau ibu, waktu masih kecil — itu tidak dijelaskan di sana. Tapi yang jelas, ketika Greg itu menghilang, nelpon enggak diangkat, dia cemas dan jadi muncul semacam — kalau di psikologi itu — semacam panik. Nelpon terus, WA terus, dan terus-menerus membombardir dengan berbagai cara, semacam memaksa untuk mendekat kembali. Nah, Greg ini semakin dipaksa, semakin enggak nyaman, semakin menjauh dia.

Mas Adi: Akhirnya, lama-kelamaan, Tamara ini, karena frustrasi, cemas, bingung, takut kehilangan, takut hubungannya bermasalah, dan takut kenapa-kenapa, performa kerjanya turun. Dan karena performa kerjanya turun, di kantor yang tadinya dia sanggup melakukan banyak hal, jadi mulai dipertanyakan kinerjanya. Jadi sekarang di kantor juga dia bermasalah, padahal tadinya di kantor dia bagus. Nah, ini salah satu hal yang saya lihat — jangan-jangan bila ada permasalahan dari karyawan di kantor, jangan-jangan salah satu permasalahannya adalah karena ada permasalahan di pernikahannya. Tapi itu semacam sesuatu yang enggak perlu diutak-atik. Padahal jangan-jangan kalau itu teratasi, maka performanya di kantor akan bisa membaik seiring dengan performanya di pernikahan. Nah, itu terjadi pada Tamara — performanya di kantor jatuh karena hubungannya dengan Greg.

Mas Adi: Greg ini juga memberi banyak sinyal yang campur aduk. Jelas-jelas Greg ini mencintai Tamara, tapi entah kenapa kadang-kadang juga dia mengindikasikan semacam yang lain itu lebih penting, dan lebih senang menjauh sama teman-temannya, dan lain sebagainya. Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa cinta aja cukup — ternyata mereka saling cinta, tapi hubungan mereka bermasalah juga. Dan enggak cuma mereka saling cinta — Tamara itu bukan orang yang sembarangan, Tamara itu di kantor dulu hebat banget dalam bekerja. Tapi ternyata kena permasalahan seperti ini, dia jatuh juga, dan kinerjanya di kantor jadi bermasalah karena kebawa-bawa permasalahan di rumah.

Mas Adi: Dan ini saya melihat banyak terjadi di kasus-kasus yang saya hadapi. Pola-pola ini sering muncul, walaupun bervariasi — ada yang memang enggak nyaman bareng, tapi ada juga suami yang enggak nyaman kalau dekat sama istrinya, yang, kalau salah ngomong dikit, berantem. Nah, istrinya takut salah ngomong dikit bikin suaminya merasa enggak nyaman. Dan itu banyak terjadi di ruang praktik, sehingga semakin memperlihatkan bahwa ternyata cinta aja enggak cukup — ternyata ada hal lain yang dibutuhkan bila kita ingin hubungan itu bisa berjalan dengan baik. Buku ini mengungkap satu dari sebagian hal, apa yang dibutuhkan agar hubungan itu bisa berjalan dengan baik. Walaupun sudah ada rasa cintanya dari awal, ada yang ternyata dibutuhkan agar hubungan bisa berjalan dengan lebih baik. Walaupun sebelumnya sudah ada rasa yang cukup, ternyata rasa aja enggak cukup. Apa itu?

  • Panik Kelekatan — Dari Bayi ke Orang Dewasa

Mas Adi: Di riset, ternyata ada satu hal yang saya pernah lihat videonya saat saya mempelajari EFT — emotional focused therapy — dari Sue Johnson. Awalnya saya enggak mengerti, karena dulu pendekatan saya kognitif banget. Begitu saya mempelajari Sue Johnson, saya enggak mengerti sebenarnya kenapa pendekatan Sue Johnson itu diklaim bisa berhasil mengatasi masalah di hubungan pernikahan. Ternyata, salah satu yang sering diuraikan oleh Sue Johnson itu teorinya adalah teori attachment.

Mas Adi: Waktu itu saya melihat ada video yang memperlihatkan ada anak sama ibunya. Ketika bayi itu, kalau misalnya ada ibunya ngajak main, ya, "ah," gitu — kalau misalnya ibunya itu juga merespon dengan respon yang sama, maka mainnya enak, mereka. Tapi kalau anaknya minta perhatian dari ibunya, tapi ibunya tidak memberikan perhatian yang sama — "oh, sudah, capek," gitu misalnya — maka anaknya akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan perhatian ibunya. Panik. Semacam merasa, "kok, aku kehilangan orang yang selama ini aku tahu, tapi dia hilang, mana, nih," gitu. Akhirnya, ada di sini tapi kok enggak kayak biasa. Akhirnya dia melakukan segala macam cara — membentak, teriak, jambak-jambak, apapun yang bisa dilakukan agar orang itu datang kembali dan main seperti biasa dengan dia.

Mas Adi: Nah, ternyata reaksi itu juga muncul di orang dewasa. Ini hal yang sama dengan Tamara, yang frustrasi karena Greg terasa lepas dari dia, sehingga dia melakukan apapun yang dia bisa untuk memaksa agar hubungan mereka dekat kembali — persis sama seperti anak tadi yang cemas karena kehilangan figur lekatnya. Nah, itu yang baru membuat saya merasa apa yang dilakukan oleh Sue Johnson itu masuk akal. Dan ketika saya mencoba untuk menerapkan itu di ruang praktik, ternyata sangat membantu, dan akhirnya saya menyadari bahwa dulu, waktu saya mempelajari emotional focused therapy, saya kehilangan satu kunci, yaitu video anak dengan ibunya tadi. Ternyata panik yang dialami oleh mereka yang cemas saat pasangannya menghilang itu persis sama dengan panik yang seperti itu.

Mas Adi: Dan dalam hubungan itu enggak cukup bagi kita hanya modal cinta aja, karena cara kita merespon pasangan itu juga krusial untuk memastikan hubungan bisa berjalan dengan baik. Karena kadang-kadang orang lain itu tidak berpikir seperti cara kita berpikir. Misalnya kita membantu adik, gitu, misalnya — kadang-kadang pasangan bisa melihat, "kok, yang dibantu dia dulu, bukan aku," gitu, misalnya. Padahal sebenarnya masalahnya wajar aja, kan. Tapi permasalahannya adalah merasa kehilangan itu, dan sulit untuk dijelaskan secara rasional. Tapi ketika kita melihat perilaku anak kecil, ya — ketika bayi panik kehilangan figur lekatnya, polanya sama.

Mas Adi: Nah, di buku Attached ini sebenarnya diperlihatkan bagaimana caranya agar orang-orang bisa memulihkan hubungannya di dalam terapi, kalau mereka memang karakteristik kepribadiannya inkompatibel. Tapi saya pribadi merasa bahwa di buku Sue Johnson, yang mungkin nanti kita bahas belakangan, kapan-kapan, itu menambah banyak sekali hal yang mungkin tidak tercakup dalam bahasan kita kali ini — mungkin nanti kapan-kapan kita bahas.

Mas Adi: Jadi, orang dewasa ternyata menunjukkan pola kelekatan kepada pasangan romantis mereka yang mirip dengan pola kelekatan anak pada orang tua mereka. Sehingga ketika kita ingin menjadi orang dekat bagi pasangan kita, maka kita perlu memahami bagaimana caranya untuk bisa menjadi orang terdekat dia. Karena ketika menjadi orang terdekatnya, respon dia ke kita akan berbeda dengan respon dia ke orang lain yang bukan orang terdekatnya. Kan beda — kok orang lain enggak marah, ke kita bisa marah; kok orang lain enggak cuek, ke kita bisa cuek. Kenapa kok ke orang lain enggak, ke kita iya? Karena kita orang terdekatnya. Nah, ketika dengan orang terdekatnya terasa kehilangan, pada sebagian orang tertentu muncul yang namanya primal panic — panik yang muncul begitu saja dan kadang-kadang sulit terjelaskan. Ternyata itu bisa terjelaskan dari pola anak-anak yang lekat dengan figur lekatnya.

Mas Adi: Semakin ke sini, penulisnya melihat bahwa teori itu semakin lama semakin efektif dalam menjelaskan beragam perilaku terkait hubungan orang dewasa. Teori kelekatan dipandang mampu menjelaskan banyak dinamika dalam hubungan dewasa, sehingga mereka mencoba untuk melihat apa yang bisa dilakukan bila memang ada inkompatibilitas kepribadian antara pasangan dengan pasangannya. Karena kadang masalahnya itu bukan cintanya yang bermasalah — cintanya enggak bermasalah, mereka saling cinta, mereka masih punya saling rasa. Buktinya, ketika mereka menjauh, yang satu menjauh, yang satunya panik, dan hubungan mereka bermasalah — ada aja akhirnya, salah satunya yang tadi menjauh itu kembali mendekat, dan akhirnya hubungan baik. Tapi nanti begitu lagi — kayak yoyo, mulur-mungkret, mulur-mungkret.

  • Tiga Gaya Kelekatan — Secure, Anxious, Avoidant

Mas Adi: Nah, ternyata bagi sebagian hubungan yang bermasalah, bukan cintanya — yang bermasalah adalah gaya kelekatannya yang enggak cocok. Ada tiga gaya kelekatan yang dijelaskan di buku itu. Yang pertama secure. Yang kedua anxious. Yang ketiga avoidant. Ini yang banyak anak-anak zaman sekarang bilang "anxious" itu disebut "angsi," "avoidant" itu disebut "afo" — angsi, afo, dan lain sebagainya.

Mas Adi: Yang secure ini istilah untuk mereka yang merasa nyaman aja dekat sama pasangannya. Jadi dekat sama pasangannya itu mereka enggak masalah, enggak merasa kenapa-kenapa. Dan kalau ada orang yang mikir, "ya iyalah, emang kenapa kalau dekat sama pasangan," ya, justru yang nyaman itu dekat sama pasangan, kan. Belum tentu dekat sama pasangan itu enggak selalu enak, karena dekat dengan pasangan itu artinya kita harus menghadapi emosinya. Kita harus menghadapi, kadang-kadang dia enggak suka, hal-hal yang enggak dia keluarkan ke orang lain, kadang-kadang dia keluarkan ke kita. Kadang-kadang dia ngambek sama kita, tapi ke orang lain enggak ngambek — ke kita ngambek. Dan kadang-kadang ada aja hal yang dipermasalahkan. Ternyata kalau masalah itu tidak dibicarakan lebih lanjut, tidak diselesaikan, itu masalah juga. Jadi terus berdiskusi, terus mencoba memahami apa yang dirasakan oleh pasangan, lalu mencoba nyari jalan keluar di tengah situasi yang panas begitu — itu enggak selalu gampang untuk dilakukan. Padahal itu, kalau misalnya pasangan, itu makanan hari-hari, kan — berdiskusi dengan pasangan, nyari jalan keluar, kadang-kadang lagi berantem, saling menjauh, tapi habis itu balik lagi. Kadang-kadang dicari jalan keluarnya, lalu salah satunya berusaha untuk menjelaskan.

Mas Adi: Nah, itu yang terjadi pada pasangan yang secure. Mereka, walaupun kadang-kadang enggak selalu nyaman, tapi mereka berusaha untuk menyelesaikan kalau ada masalah, dan mereka nyaman aja begitu. Kenapa? Karena mereka melihat orang tuanya, kalau ada masalah, mereka mengatasinya dengan cara didiskusikan.

Mas Adi: Tapi ada sebagian orang yang, kalau ada masalah, mereka mengatasinya dengan memaksa — mungkin karena melihat orang tuanya, kalau ada masalah, mengatasinya dengan cara maksain emosi, marah, inginnya cepat. Karena bagaimana caranya agar anak mau mendekat dengan dia, atau melakukan apa yang diinginkan? Caranya dengan dipaksa. Nah, ketika paksaan menjadi satu-satunya cara, apalagi dengan emosi begitu, maka itu menurun — cara untuk mengatasi pasangannya yang tidak mau nurut sama dia adalah dengan cara maksa juga.

Mas Adi: Nah, parahnya kalau ...

Selengkapnya, tonton videonya ya..