Saya bisa mengerti sih kenapa banyak orang lebih pilih curhat ke AI ketimbang ke Psikolog. Saya sendiri adalah seorang psikolog, dan saya harus mengakui bahwa dalam beberapa hal AI memang mengungguli saya. AI tidak pernah kehabisan tenaga (kehabisan token aja paling), sementara kemampuan mendengar saya menurun ketika saya lelah. AI itu pengetahuannya luas, jawabannya lengkap, dan nadanya sabar secara luar biasa konsisten — sesuatu yang tidak selalu sanggup dijaga oleh manusia yang rada sering angin-anginan. Jadi, wajar saja bila orang lalu bertanya mengapa masih perlu membayar sesi konseling ke psikolog. Bener ga?
Tapi pada kenyataannya, ternyata tetep banyak tuh yang pesen sesi konseling sama psikolog manusia, meskipun mereka sudah sering curhat ke AI. Kenapa coba?
Saya rasa yang membuat orang-orang kembali untuk konseling ke psikolog adalah karena psikolog membantu manusia menemukan jawaban mereka sendiri, bukan memberikan jawaban versi AI yang pada dasarnya bukan manusia. Respon dan jawaban dari AI sering kali lengkap dan benar, tapi tidak selalu manusiawi. AI kadang ga nyadar kalau manusia itu ga sejago mereka. Manusia kadang butuh proses. Kadang juga butuh dosis respon yang tepat, bukan yang lengkap, bukan juga yang selalu logis.
Bagi saya, mendengarkan terasa seperti bukan keterampilan tunggal, melainkan susunan dari beberapa lapis kemampuan. Ada lapis menangkap kata, lapis mengenali emosi yang bergerak di bawahnya, dan lapis membayangkan situasi yang diceritakan. Pada lapis pertama AI unggul, dan saya harus akui itu. Tapi lapis kedua dan lapis ketiga, seringkali hanya bisa dirasakan dan dibayangkan oleh manusia yang pernah merasakan ataupun mengalami hal yang serupa. Lapis keempat berbeda lagi sifatnya, yaitu kemampuan mengikuti proses: mengetahui ke mana percakapan ini sedang dibawa, apa yang belum waktunya dikatakan, dan seberapa banyak yang sanggup ditampung oleh orang yang ada di hadapan kita saat itu.
Bagian proses yang paling sering terlewat justru menahan diri untuk tidak menjawab. Saya sendiri meyakini bahwa memberi nasihat kepada orang yang bermasalah umumnya tidak banyak membantu, dengan dua alasan. Pertama, manusia sangat resistan terhadap nasihat, dan kita semua mungkin pernah merasakan itu. Kedua, sekalipun nasihatnya tepat dan dijalankan, solusinya bukan datang dari orang itu sendiri. Kalau solusi dari psikolog benar, orang itu akan ketergantungan. Kalau solusi dari psikolog salah, atau suatu saat muncul masalah, maka dia akan merasa dijerumuskan. Solusinya harus datang dari orang itu sendiri, bukan dari psikolog. Pada titik itulah, solusi lengkap dari AI, atau bahkan solusi lengkap dari psikolog sekalipun, akan memunculkan masalah baru nantinya. Bahkan bila solusinya benar sekalipun. Jadi psikolog justru dibutuhkkan karena psikolog tidak memberikan jawaban. Psikolog justru dibutuhkan untuk memunculkan jawaban dari diri kliennya sendiri.
Dan prosesnya kadang harus bertahap. Tidak bisa terlalu cepat. Seperti halnya operasi, yang perlu dibius dulu sebelum disayat, konseling juga begitu. Sebelum diajak untuk membahas solusi, bantu dulu dia memahami akar dari permasalahannya yang terlihat ruwet itu. Dan membantu klien memahami akar dari permasalahannya, itu butuh agak lambat prosesnya.
Jadi itulah kenapa saya belum melihat AI sebagai kompetitor untuk saat ini. AI masih terasa seperti pelengkap yang memudahkan pekerjaan saya.
Lebih pilih konseling ke AI aja ketimbang ke psikolog? Boleh aja. AI bakal memberi kita semua informasi yang dibutuhkan.
Masalahnya adalah, orang ke konseling ke psikolog itu bukan karena dia butuh informasi. Tapi karena dia butuh dibantu.
Yang dia butuhkan adalah dosis respon yang tepat dan presisi. Bukan gelondongan informasi.